Kronologi Singkat Sengsara Yesus
April 3rd, 2007 by milles-christi
Beberapa tahun lalu, kita melihat film arahan Mel Gibson tentang Passion of Christ. Passion berasal dari kata latin patior yang berarti" to suffer/untuk menderita". Penemuan Arkeologi ditambah dengan pengetahuan medis sekarang ini memberikan gambaran lebih jelas tentang bagaimana Yesus menderita untuk mencintai kita.
Dari taman Getsemani, kita tahu bahwa Yesus berdoa dengan sangat menderita(Luk 22:44) sampai keringat berubah menjadi darah. Medical science membuktikan bahwa seseorang dapat mengeluarkan keringat darah waktu dalam keadaaan yang sangat emotional. Kondisi ini dinamakan" Hematidrosis atau hemohidrosis". Ini dikarenakan oleh pendarahan pada kelenjar keringat.
Bapa di Surga tidak pernah meninggalkan dia, dan Dia mengirim malaikat untuk memberikan kekuatan.(Luke22:43)
Yesus dibawa kepada para imam2 kepala dan Kaifas. Dia dihukum mati disitu karena dia menjawab pertanyaan mereka. Kata Yesus" soon you will see the Son of Man seated at the right hand of the Power and coming on the clouds of Heaven (Matius 26:64). Disini dia dihukum mati karena penghinaan/penghujatan terhadap Tuhan menurut imam2 kepala. Disitu Dia ditampar, diejek, dipukuli. Biarpun mereka menjatuhkan hukuman mati kepada Yesus, tetapi Imam Kaifas tidak mempunyai wewenang untuk melaksanakan hukuman tersebut. Maka dari itu mereka berbondong2 datang ke Pilatus sang Gubernur Roma. Karena Gubernur punya wewenang untuk melaksanakan hukuman mati.
Tapi kalo kita perhatikan, betapa curangnya imam2 kepala dan yang lain didepan Pilatus. Mereka menuduh Yesus: mengajak orang tidak membayar pajak, menyesatkan bangsa, dan mengaku sebagai Raja"
Tentang tuduhan sebelumnya yaitu "menghujat Allah" tidak diungkit2. Karena apa? karena Pilatus tidak perduli kalo ada orang mengaku bahwa dia anak Allah atau seorang nabi. Pilatus sebagai gubernur Roma perduli kalo ada orang yang mengganggu integritas bangsa Roma, masalah pajak, penghasutan/provokasi, pengerahan massa, dll. Sama sperti tugasnya Sutiyoso, dia tak akan perduli kalo ada orang mengadukan bahwa seseorang mengaku sebagai anak Allah. Tetapi sebagai gubernur Jakarta, dia perduli kalo ada orang yang melakukan provokasi atau pengerahan massa yang mengganggu Jakarta, atau orang yang membuat banjir.
Jadi Pilatus tidak bisa menjatuhkan hukuman apa2 tetapi karena desakan para demonstran, akhirnya dia menjatuhkan hukuman cambuk. Cambuk yang digunakan adalah seperti yang di film Passion of Christ arahan Mel Gibson. Ada beberapa macam cambuk, tapi yang biasa yang digunakan adalah cambuk yang rada pendek( flagrum atau flagellum) dengan duri/semacam kail yang terbuat dari tulang atau cangkang kerang. Biasanya orang yang dicambuk dilucuti bajunya dan disuruh tengkurap. dicambuk bagian punggung, pantat, dan kaki. Kulit dan daging akan terkelupas meninggalkan luka2 yang dalam dan mengalami pendarahan. Mereka(para algojo) mengatur /menghitung berapa kali cambukan agar tidak mati dari pendarahan yang berlebihan dan tahan sampai orang itu disalib.
Bukan cuman cambuk, Yesus juga dimahkotai duri, diludahi, dan terus diejek. Yesus mengalami dua penyiksaan yaitu secara jasmani dan psikologis yang lengkap. Salib adalah hukuman yang paling hina dan juga secara psikologi, Yesus difitnah dan juga ditinggalkan oleh teman2nya/murid2nya. Ini membuat moral seseorang menjadi drop dan kita tahu bahwa tubuh dan jiwa bersangkutan satu sama lain. Tubuh tersiksa kalo jiwa tersiksa dan sebaliknya. Bangsa Roma telah menyempurnakan metode penyaliban ,yang mungkin awalnya dari Persia, untuk membuat mati yang amat perlahan dengan sakit yang sangat. Kita tahu bahwa salib adalah hukuman yang paling hina dan untuk penjahat kelas berat saat itu. Hukuman ini sangat hina sehingga ada peraturan di pemerintahan Roma sekitar tahun 43 BC yang menyatakan bahwa penduduk ber-KTP Roma tidak akan menerima hukuman salib biarpun layak. Karena itu Santo Paulus yang ber-KTP Roma dihukum penggal bukan disalib.
Untuk lebih menyengsarakan, Yesus memanggul salibnya. Tapi karena berat salib itu sekitar 150 kg, biasanya yang dihukum cuman membawa kayu horizontalnya saja(patibulum) yang berberat sekitar30-70 kg). Kayu yang vertical biasanya sudah disediakan ditempat eksekusi. Pengawal/prajurit Roma membawa titulus yang memperlihatkan nama dari terdakwa dan kejahatannya yang kemudian dipaku disalibnya.
Waktu sampai ditempat eksekusi, hukum Roma waktu itu mengatakan bahwa seharusnya terdakwa diberikan anggur asam yang dicampur dengan empedu yang berkasiat sebagai analgesic/pereda rasa sakit.
Yesus kemudian disalib, tangannya direntangkan diatas kayu yang dia bawa, dipaku oleh paku yg panjangnya 7 inch dan diameter 3/8 inch( 1 inch =2.54 cm). Pakunya dipalu diatas pergelangan tangan untuk support the body weight(kalo ditelapak tangan kurang bisa support body weight). Demikian juga dengan kakinya, dipaku dan disandarkan pada sandaran kaki yang kecil.
Selama dikayu salib, masyarakat tidak berhenti2 mengejek…jadi siksaan psikologi juga terus berlanjut. Siksaan psikologi juga terjadi saat Yesus ditelanjangi didepan orang banyak tanpa satu helai benang pun. Untuk menambah beban psikologinya, kadang tentara2 Roma menghadirkan anggota keluarga untuk menontonnya. Selama dikayu salib, biasanya mereka digantung (tergantung tahannya sampai kapan)tetapi biasanya berkisar dari 3 jam sampai 3 hari. Sambil kesakitan, lalat dan serangga biasanya hinggap pada luka2 orang yang disalib, pada matanya, hidung telinga,dan kadang burung pemakan daging juga hinggap.
Lama kelamaan orang yg disalib mengalami trauma dari cambukan2 sebelumnya yg mengeluarkan banyak darah, kehausan yang sangat. Sehingga akhirnya badannya yang ditopang oleh kakinya menjadi lemas dan hilang kekuatan. Sehingga badannya menarik kebawah dan karena kakinya sudah lemas, maka sekarang giliran tangan yang dipaku yang support the body weight. Tetapi karena posisi ini sangat menyakitkan, biasanya posisi sperti ini juga mengakibatkan kesulitan untuk bernafas. Sehingga dia mati perlahan2 dan tentara2 Roma yang ingin mempercepat proses kematian sang terhukum biasanya mematahkan kedua kakinya. Tapi dalam hal ini Yesus tidak dipatahkan kedua kakinya karena ada tertulis nubuat tentang Yesus dikitab suci" Kedua kakinya tidak akan dipatahkan". Ini sejalan dengan peraturan paskah perjanjian lama dimana mereka harus mempersembahkan domba yang tidak bercacat dan tidak ada tulang yang patah. Yesus adalah domba paskah perjanjian Baru. Dulu Tuhan memberikan keselamatan kepada semua rumah yang pintunya dilumuri darah domba paskah, sama dengan sekarang, Tuhan juga memberikan keselamatan yang sempurna kepada setiap mereka "dilumuri" oleh darah anak domba perjanjian baru, yaitu Yesus sendiri.
Setelah kelihatan meninggal, biasanya para prajurit memastikan dengan menusuk lambung sang terhukum dengan tombak. Yesus mengeluarkan air (pericardial fluid) dan darah setelah ditombak.
Dan mayatnya biasanya dibiarkan disalib sampai dimakan binatang/ busuk. Tetapi hukum Roma memperbolehkan pihak keluarga untuk mengambil mayatnya dan dikuburkan seizin dari Gubernur Roma. Dalam kisah Yesus, Yusuf meminta Izin kepada Pilatus.
Katekismus Gereja Katolik mengatakan
"Sinners were the authors and the ministers of all the sufferings that the divine Redeemer endured". Kita lah sebabnya Yesus mau melakukan semuanya itu, karena kita. Dia sangat mencintai kita, dan setiap dosa2 kita, yang kecil yang besar, kita menyalibkan Yesus dan menyiksa Dia dihati kita.
Waktu dimisa kita harus mengenang kembali apa yang Tuhan Yesus jalani untuk kita semua. Kalo ada orang yang bilang kenapa saya fanatik( dalam konteks positif) terhadap agama saya, alasan saya hanya satu yaitu karena Tuhan saya begitu fanatik(positif) mencintai saya!
Sumber dari Buku Fr. Pavone "What is Cruxifixion" , Scott Hahn "Lamb Supper" dan tambahan penghayatan individu.
Gambar diambil dari www.thepassionofthechrist.com/








